Minggu, 06 Juli 2008

BUDIDAYA GAHARU

YAYASAN KENARI MAKASSAR
Jln.Muh.Jufri V/10 Makasssar Telp.(0411) 5496898
Mengajak para petani untuk bersama dengan kami menanam pohon gaharu. Potensi minimal Rp.10 milyar dalam 1 hektar selama 6 tahun.

BUDIDAYA GAHARU

A.Tehnik budidaya

1 Pemilihan Spesies
Jenis gaharu yang disarankan untuk budidaya adalah; Aquilaria malaccensis, A. microcarpa serta A. crassna adalah species penghasil gubal gaharu dengan aroma yang sangat disenangi masyarakat Timur Tengah, sehingga memiliki harga paling tinggi. Perbanyakan bisa menggunaka bibit cabutan anakan dari alam dan stump gaharu dengan perlakuan Rootone-F memungkinkan budidaya mudah dilakukan. Tetapi yang paling baik adalah bibit gaharu yang diperbanyak melalui kultur jaringan. Karena asalnya sudah diseleksi keunggulannya dengan baik, bibit seragam, perakaran banyak dan bagus sehingga bibit diharapkan tumbuh seragam di lapangan. Bibit kultur jaringan gaharu sudah bisa diperoleh sekarang ini dan kami siap membantu memfasilitasi perolehan bibit tersebut.
2. Lokasi Penanaman
Tanaman gaharu termasuk toleran sehingga bisa berkembang pada berbagai jenis tanah. Namun yang paling disukai adalah daerah dengan iklim yang tidak terlalu kering. Gaharu dapat ditanam mulai dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian sekitar 750-900 m.dpl.
3. Pola Penanaman
Gaharu sesuai dengan pola tanam momokultur juga sesuai ditanam dengan pola tumpangsari atau tanam campuran. Bisa ditanam pada kebun yang sudah ada sebagai tanaman sisipan atau pembatas kebun.
4. Jarak Tanam
Idealnya ditanam dengan jarak tanam 3 x 3 m tapi dapat juga dengan jarak 2 x 5 m atau 2,5 x 3 m atau tanam rapat 2,5 x 2,5 m. Jika gaharu ditanam pada pada kebun yang sudah ada tanaman lain maka gaharu boleh ditanam diantara tanaman tersebut sebagai tanaman sisipan.. Dengan populasi paling banyak sepertiga banyaknya bila ditanam secara monokultur. .

5. Lubang Tanam
Ukuran lubang tanam adalah 60x60x60 cm. Lubang yang sudah digali dibiarkan minimal 2 minggu, agar lubang beraerasi dengan udara luar. Kemudian masukkan pupuk dasar Sp 36 sebanyak 50 gram ditambah kompos dan sekam padi perbandingan 3 : 1 hingga ¾ ukuran lubang. Kemudian minimal 3 minggu bibit gaharu siap ditanam.
6. Penanaman
Penanaman bibit gaharu sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan agar bibit menjadi besar sebelum musim kemarau. Waktu penanaman sebaiknya pagi hari jam 7,00- 9,000 atau sore hari jam 16,00 -18,00.
7. Pemeliharaan
Pemupukan dapat dilakukan setiap tiga bulan dengan kompos sebanyak 3 kg melalui pendangiran dibawah canopy.Penggunaan pupuk majemuk kimia seperti NPK dapat ditambahkan setiap 3 bulan dengan dosis rendah (5 gram / tanaman) setelah tanaman berumur 1 tahun. Kemudian dosisnya bertambah sesuai dengan besarnya tanaman. Pada tahun ke 2 penggunaan kompos dengan dosis 3 kg per enam bulan ditambah pupuk kimia NPK 10 gram / tanaman per 3 bulan. Pada tahun ke 3 dan seterusnya penggunaan kompos dengan dosis 5 kg per enam bulan ditambah pupuk kimia NPK 20 gram / tanaman per 3 bulan.
Hama tanaman gaharu yang perlu diperhatikan adalah kutu putih yang hidup dibawah permukaan daun, bila kondisi lingkungan lembab. Pencegahan dilakukan dengan pemangkasan pohon pelindung dan pemangkasan pohon gaharu agar kena cahaya matahari diikuti penyemprotan pestisida seperti Tiodane, Decis, Reagent., dll Pembersihan gulma dapat dilakukan sekali 3 bulan atau pada saat dipandang perlu saja.
Pemangkasan pohon dilakukan pada umur 3 sampai 5 tahun, dengan memotong cabang bagian bawah dan menyisakan 4 sampai 10 cabang atas. Pucuk tanaman dipangkas dan dipelihara cukup sampai tinggi sekitar 5 m, sehingga memudahkan pekerjaan inokulasi pada pohon gaharu.

B.Teknologi rekayasa produksi
Mengantisipasi kemungkinan punahnya pohon penghasil gaharu jenis-jenis langka sekaligus pemanfaatannya secara lestari. Badan Litbang Kehutanan melakukan upaya konservasi dan budidaya serta rekayasa produksi untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi atau inokulasi.
Secara teknis, garis besar tahapan rekayasa produksi gaharu dimulai dengan isolasi jamur pembentuk yang diambil dari pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh pohon yang dibudidayakan. Isolat tersebut kemudian diidentifikasi berdasar taksonomi dan morfologi lalu dilakukan proses skrining untuk memastikan bahwa jamur yang memberikan respon pembentukan gaharu sesuai dengan jenis pohon penghasil gaharu agar memberikan hasil optimal. Tahap selanjutnya adalah perbanyakan jamur pembentuk gaharu tadi, kemudian induksi, dan terakhir pemanenan.
Untuk menginfeksi pohon jenis Aquilaria spp demi memperoleh gubal gaharu atau kemedangan (kualitas satu tingkat di bawah gubal), setiap pohon yang berusia lima tahun disuntik dengan cendawan fusarium. Suntikan dinilai berhasil bila kemudian muncul guratan kecoklatan yang diikuti layunya daun, sebelum akhirnya pohon mati. Untuk saat ini, produksi gaharu buatan yang dipanen pada umur 1 tahun setelah penyuntikan berada pada kelas kemedangan dengan harga jual US$ 100 – 150 per kilogram.
C. Cerita Pengalaman Para Pekebun Gaharu
1 Adi Saptono
Untuk memperoleh 21 kg gubal gaharu, Adi Saptono tak perlu menjelajah hutan yang menguras tenaga. Ia cukup menebang 3 pohon di kebunnya setahun pasca penyuntikan. Dari penjualan gubal itu, total pendapatannya Rp 52-juta.
Adi Saptono memang mengebunkan 10 ha gaharu masing-masing terdiri atas 400 pohon per ha sebagai tanaman sela. Di halaman belakang rumahnya ada 200 pohon, kata pekebun di Pangkalpinang, Bangka-Belitung itu. Gaharu-gaharu di kebun itulah yang ia panen setelah setahun disuntik cendawan. Pohon-pohon lain anggota famili Thymelaeceae itu menyusul panen pada bulan mendatang. Adi tak perlu repot memasarkan gaharu. Soalnya, importir asal Taiwan mendatangi rumahnya. Importir itu malah minta pasokan rutin 10 ton sehari,' katanya.
2 Johny Wangko
Pekebun lain yang mencecap bisnis gaharu. Maret 2008, memasarkan 15 kg kamedangan-gubal gaharu kelas 3. Produktivitas gaharu Aquillaria malaccensis yang dicapai rata-rata 6 kg per pohon setinggi 4 m. Dengan harga Rp1,3-juta/kg , Johny Wangko mengantongi Rp20-juta. Padahal, 6 tahun silam ketika hendak mengebunkan gaharu, rekannya meragukan.
Di Bogor ia menanam 7 jenis gaharu seperti Aquillaria filaria dan A. cumingiana dari Seram,
A. hirta (Batam), A. malaccensis (Kalimantan Selatan), dan A. crassna (Indocina). Selain di sana, Johny juga mengebunkan gaharu di Serdang, Bangka Selatan, sebanyak 140 pohon. Yang di Sukabumi untuk tabungan saya, jadi dipanennya nanti saja kalau sudah tua,' kata pria 59 tahun itu.
3. H. Arpan
Perambahan dan penebangan kayu hutan seperti di kawasan hutan Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, nyaris tanpa henti sepanjang tahun. Berkurangnya sumber mata air, erosi, dan tanah longsor adalah dampak perambahan kawasan itu yang dirasakan masyarakat.
Populasi kayu yang ditebang pun antara lain kayu endemik kawasan itu, seperti kayu gaharu yang gubalnya bernilai ekonomis tinggi. ”Batang pohon gaharu itu ditebang habis sampai akar untuk diambil gubalnya. Tak ada niat si penebang menanam bibit yang sama sebagai pengganti,” ujar H Arpan (69), warga Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Masyarakat tergiur harga gubal gaharu yang relatif tinggi. Gubal gaharu kualitas super Rp 30 juta per kilogram (kg). Sedangkan kualitas di bawahnya Rp 2 juta-Rp 3 juta per kg. Gubal yang damarnya dijadikan bahan pembuat minyak wangi ini di Arab Saudi digunakan mandi uap dan untuk peranti keagamaan di Jepang.
Arpan cemas gaharu jenis Gyrinops versteegii di Lombok akan punah karena dari 100 pohon yang ditebang, belum tentu ada satu pohon dengan gubal. Para pemburu pun menggali tanah di sekitar pohon, menyisakan lubang besar yang memacu terjadinya degradasi lingkungan hutan.
Padahal sebelum 1970-an, ”Masih banyak pohon gaharu yang diameternya tak cukup dipeluk dua tangan orang dewasa,” tutur Arpan yang waktu itu setiap hari masuk-keluar Hutan Pusuk mencari kayu bakar sekaligus melihat perilaku para pemburu ”menghabisi” pohon gaharu.Kecemasan itu mendorong Arpan untuk menyelamatkan populasi pohon gaharu di kawasan Hutan Pusuk. Ia mencari dan mengumpulkan bibit kayu itu di dalam hutan, kemudian disemai sebelum ditanam.
Proses pembibitan dia lakukan pada lahan pinjaman milik Dinas Kehutanan Lombok Barat yang tengah melakukan program reboisasi. Bibit gaharu yang siap tanam itu selain dijual seharga Rp 20.000-Rp 30.000 per batang, juga dibagikan kepada masyarakat di seputar kawasan hutan untuk ditanam di lahan garapan.
Melihat kesungguhannya, pada 1979 Dinas Kehutanan Lombok Barat merekrut Arpan untuk program reboisasi di beberapa tempat di Pulau Lombok. Ia mendapat honor Rp 8.000 per bulan. ”Honor saya terus naik, sekarang jadi Rp 400.000,” katanya.Uang itu digunakan antara lain untuk membayar pekerja mencari bibit gaharu di hutan, lalu disemaikan di halaman rumahnya. Dari kegiatan ini, ia bisa menyediakan stok bibit 2.000 batang sebulan. Setelah melalui proses persemaian selama tujuh-delapan bulan, bibit siap dijual. Seiring waktu, Arpan menjadi sumber penyedia dan pemasok bibit untuk kepentingan NTB serta beberapa daerah di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan. Rumahnya nyaris tak pernah sepi dari kunjungan para LSM, petani, dosen, turis, dan peneliti dari mancanegara, seperti Jepang dan Australia.
Kunjungan para tamu itu tercatat rapi dalam bukunya. Mereka melihat hasil kerjanya dan menginap beberapa hari untuk belajar teknis bertanam dan penyemaian gaharu. ”Saya seperti dosen saja,” ujar Arpan sambil terkekeh. Lokasi yang kerap dikunjungi para tamu adalah lahan seluas 80 hektar milik Dinas Kehutanan Lombok Barat di kawasan Hutan Pusuk. Lahan ini pada tahun 1995-1996 ditanami 1.100 batang gaharu yang kini tinggi pohonnya tujuh meter.
Karena kepeduliannya itu, Arpan menerima penghargaan Kalpataru tahun 2002 sebagai perintis lingkungan. Produk gaharu yang dibudidayakannya diperkuat sertifikat dari Badan Penelitian Tanaman Hutan (BPTH) Denpasar, Bali. H.Arpan sempat kewalahan melayani permintaan benih gaharu dari berbagai daerah. Permintaan sebanyak 30.000 batang bibit gaharu itu datang dari Pulau Alor, NTT, Kendari, Banten, Manado, dan Jawa Barat. Gaharu tak hanya memberi penghasilan bagi Arpan, tetapi ia juga mendapat banyak teman dari berbagai daerah maupun orang asing. ”Kami juga bisa saling berbagi ilmu pengetahuan tentang gaharu.”
Sebagai penyedia bibit, nama Arpan relatif kondang. Namun ia tetap sederhana. ”Saya selalu ingat, ikhtiar saya hanya membudidayakan gaharu agar orang bisa melihat gaharu tetap tumbuh di hutan. Kalau gaharu ditebang terus dan hutan rusak, generasi muda kita cuma dengar cerita tentang gaharu,” ucapnya.
Awalnya, apa yang dirintis Arpan tak selalu mulus. Ia dibenci sebagian orang yang menganggap aktivitasnya itu menjadi halangan bagi mereka untuk bebas menebang pohon. Namun, setelah tampak hasilnya, tak sedikit warga kampung yang ”angkat topi” kepadanya. Mereka yang semula mencemooh, mengatakan dia gila, justru kemudian mengikuti jejak Arpan sebagai penyedia bibit gaharu.
4 Pekebun lainnya
Lima tahun terakhir memang banyak orang mengebunkan pohon penghasil gaharu.Di Kubangan, Riau, ada Rama yang mengebunkan 4.000 gaharu di lahan 4 ha. Nun di Dusun Hena, Flavo, Kecamatan Sentani Tengah, Papua, Doren Woku menanam 50 gaharu beringin Aquillaria filaria di halaman rumah. Selain di halaman rumah, ayah 3 anak itu juga menanam 100 pohon di kebun di Siklop, Sentani. Sekarang umur pohon 4 tahun dan siap disuntik cendawan.
Pekebun-pekebun lain tersebar di berbagai kota seperti Mataram, Sanggau, dan Bengkulu Utara. Mengapa mereka mengebunkan gaharu? Harga jual tinggi-mencapai Rp 30-juta per kg- kwalitas super menjadi daya tarik utama. Siapa tak tergiur harga selangit itu? Itulah sebabnya banyak pemburu mencari gaharu di hutan. Akibatnya, populasi pohon penghasil gaharu di alam pun semakin menyusut. Beberapa spesies seperti Aquillaria malaccensis kini termasuk appendix II oleh Convention on International Trade of Endangered Species Wild Flora and Fauna (CITES).
Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk menyiasatinya adalah dengan budidaya . Itu bukanlah hal mudah. Maklum, selama ini tak ada yang memanen gaharu di kebun. Nah, Johny Wangko dan Adi Saptono termasuk pekebun pertama yang menikmati manisnya memanen gaharu.
D. Prospek Berkebun Gaharu
Menurut Dr Erdy Santoso, periset gaharu di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, membudidayakan gaharu mempunyai banyak kelebihan ketimbang mengambil di alam. Di alam, cendawan baru dapat masuk ke jaringan tanaman ketika ada 'pintu masuk', misalnya cabang patah diterjang angin. Masalahnya, menunggu cabang patah tak menentu. Bandingkan bila pekebun membudidayakan gaharu. Kapan pun mau, pekebun dapat menyuntikkan cendawan ke pohon dewasa minimal 5 tahun. Selain itu Departemen Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Alam (BKSDA) juga membatasi jumlah penjualan gaharu alam di dalam negeri dan mancanegara.
Ketika populasi menipis di hutan, sementara pasar terbentang luas, membudidayakan gaharu solusi terbaik. Apalagi tak mungkin mengandalkan pasokan gaharu dari hutan lantaran regulasi itu. Menurut Erdy penampilan gaharu alam dan budidaya relatif sama. Untuk mengawasi peraturan itu BKSDA rutin menyambangi kebun gaharu milik masyarakat.
Menurut Ir Agus Djoko Ismanto, periset gaharu Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, pasar gaharu tak terbatas. Johny Wangko, eksportir juga mengatakan hal serupa. 'Importir Taiwan siap menampung berapa pun banyaknya,' katanya. Sayang, karena jumlah pohon masih sedikit, Johny tak sanggup memenuhi permintaan Taiwan.
Syaswirizal dari CV Aroma, eksportir gaharu sejak 1995, juga kelimpungan mencari pasokan gaharu untuk melayani total permintaan 140 ton per tahun. Ia hanya sanggup memasok 40 ton. Pasar yang menyerap gaharu adalah Singapura (75%), Timur Tengah (17%), dan Taiwan (5%). Selebihnya terserap pasar Hongkong, Jepang, dan Malaysia, 'kata Muhammad Faisal Salampessy, eksportir gaharu.
Di Arab Saudi, misalnya, gaharu menjadi kebutuhan rutin setiap rumah tangga. Sehabis membersihkan rumah, menyambut kedatangan tamu, atau pada perayaan-perayaan khusus, mereka pasti membakar gaharu sebagai pengharum, kata Agus Djoko Ismanto. Negeri kaya minyak itu menghabiskan 2,5-miliar real atau setara US$ 667-juta setahun untuk pengadaan 500 ton gaharu. Itulah sebabnya banyak orang Indonesia yang umroh ke Mekkah menenteng 2-3 kg gaharu kelas kacangan untuk dijajakan di sana. Gubal gaharu laku 1.000 real / kilogram.
Penjualan gaharu langsung juga marak ke Singapura dan Malaysia. Dalam sehari bisa keluar sampai 100 ton gaharu ke Singapura, kata Johny. Hal itu juga berpengaruh terhadap pergerakan harga. Harga gaharu super, misalnya, semula Rp15 juta per kg, kini naik menjadi Rp30 juta. Gaharu super berwarna hitam pekat dan tenggelam bila dimasukkan dalam air. Itu lantaran tingginya permintaan, tapi produksi terbatas.
Jangankan gubal, sisa kerikan kayu gaharu saja laku Rp100.000 per kg. Bahkan suloan alias abu bekas kerikan terjual Rp25.000 per kg. Suloan dimanfaatkan untuk membuat minyak bermutu tinggi. Untuk membuat 100 ml parfum biasanya dibutuhkan 100 cc minyak mawar atau minyak melati. Dengan minyak gaharu cukup 5 cc saja, dan bisa bertahan sampai 6 hari. 'Makanya, semua parfum mahal pasti mengandung gaharu, kata Erdy.
Harga minyak gaharu cukup tinggi berkisar US$ 150 – US$ 200 per 10 cc. Malahan ampas hasil sulingan minyak pun bisa dimanfaatkan sebagai obat nyamuk. Di pasaran, ampas itu dihargai Rp 8.000 - Rp10.000 per kg. Sedangkan air bekas sulingan minyak sebagai pupuk. Dengan banyaknya nilai tambah dari gaharu, wajar jika harga gaharu semakin menjulang. Untuk itulah saatnya kini membudidayakan gaharu. … Mari kita bersama-sama menanam gaharu, menghijaukan negeri yang sudah semakin tandus. Kami siap membantu bapak-bapak memfasilitasi perolehan bibit unggul hasil kultur jaringan, memberi petunjuk budidaya, mengajarkan tehnologi rekayasa produksi dengan cara penyuntikan, menunjukkan cara pemanenan yang benar dan bersama dengan kami dalam pemasaran hasil.
Bila Anda Tertarik jangan segan-segan menghubungi Kami :
1. Baso Datu Iskandar SH, Telpon ( 0411) 582726.
2. Ir. A.M. Bakri, HP. 081524042498. Email :andi.bakri@yahoo.com

Tidak ada komentar: